Penyakit Sipilis

Penyakit Sipilis – Ikhtisar Topik

ciricirisipilis.com – Penyakit sipilis adalah salah satu jenis penyakit kelamin yang dapat di tularkan melalui hubungan seksual. penyakit ini sangat mudah sekali menular, jika 1 orang Pria atau Wanita mengidap penyakit ini kemudian dia melakukan hubungan seksual dan tanpa menggunakan pengaman atau kondom. secara langsung penyakit ini di tularkan ke pasangannya. hanya dalam waktu beberapa hari akan terlihat gejalanya.

Penyakit Sipilis

penyakit ini akan berkembang cepat karena di sebabkan oleh bakteri treponema pallidum.  Treponema pallidum merupakan bakteri batang berkuran panjang, ramping, berbentuk lengkung heliks, spiral atau bentuk alat pembuka tutup botol (corkscrew), bersifat gram negative. Treponema pallidum mempunyai selubung luar atau lapisan glikosaminoglikan. Di dalam selubung luar terdapat membrane luar, yang mengandung peptidoglikan dan yang mempertahankan integritas struktur organisme.

Penyakit sipilis secara umum di bedakan menjadi 2 gejala yaitu sipilis pada pria dan sipilis pada wanita. Gejala yang di timbulkan oleh infeksi bakteri sipilis pada pria lebih mudah di ketahui di bandingkan dengan pada wanita.

Sipilis Pada Pria

Pria yang tertular penyakit sipilis memiliki ciri-ciri:

  • Keluarnya cairan nanah dari penis pada laki-laki.
  • Nyeri selama hubungan seksual atu pada saat buang air kecil.
  • Kerongkongan terasa sakit atau ada luka kerongkongan pada orang-orang dengan oral sex.
  • Nyeri pada daerah sekitar anus pada orang-orang dengan anal sex.
  • Luka memerah tanpa rasa sakit pada daerah kelamin, anus, kerongkongan dan atau lidah.
  • Bintik merah pada kulit dan bersisik pada telapak tangan dan telapak kaki.
  • Urine atau air kencing berwarna gelap, feses berwarna terang, mata dan kulit berwarna kuning.
  • Timbul lepuh kecil pada daerah kelamin yang berubah menjadi koreng (kerak kering pd luka).
  • Gejala infeksi yang aneh, lelah yang tidak dapat dijelaskan mengapa, keringat malam, berat badan menurun.
  • Pembengkakan pada kelenjar limfe, demam dan nyeri atau rasa sakit pada seluruh tubuh.

Sipilis Pada Wanita

Pada wanita yang terkena sipilis memiliki ciri-ciri:

  • Keluarnya cairan yang tidak normal dari saluran kencing dan atau liang senggama ( Keputihan yang banyak, berbau amis, berwarna putih kehijauan )
  • Rasa nyeri ketika kencing atau saat berhubungan seksual
  • Rasa gatal di alat kelamin atau sekitarnya
  • Adanya Lecet, luka kecil ( kadang ada yang tidak terasa sakit ) yang disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening
  • Adanya perubahan warna kulit dan mata

Pada wanita, penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas atau bahkan tidak mengalami keluhan sama sekali, sehingga wanita mudah menjadi sumber penularan
komplikasi berupa bartolitis, yaitu membengkaknya kelenjar Bartholin sehingga penderita susah jalan karena nyeri. Komplikasi dapat ke atas menyebabkan kemandulan, jika ke rongga perut menyebabkan radang di perut dan usus. Selain itu baik pada wanita atau pria dapat terjadi infeksi sistemik ( seluruh tubuh) ke sendi, jantung, selaput otak dan lain-lain. Pada ibu hamil, bila tidak diobati, saat melahirkan mata bayi dapat terinfeksi, bila tidak cepat ditangani dapat menyebabkan kebutaan

Penyakit Sipilis Berdasarkan Usia

penyakit sipilis di golongkan menjadi 3 bagian berdasarkan usia sejak terinfeksi; yaitu sipilis primer, sekunder dan tersier. sedangkan sipilis tersies terbagi lagi menjadi Sipilis kardiovaskuler, neuro sipilis dan kongenital.

a. Sipilis primer (Lues I)

Lokalisasi dari lesi primer didapatkan pada daerah genitalia; pada laki-laki didapatkan disekitar corona glandis dan urethra, sedang pada wanita lesi primer ini didapatkan pada labia, perineum, dinding vagina atau pada serviks uteri. Di sekitar lesi primer akan didapatkan pembesaran kelenjar limfe regional yang tidak nyeri.

Kelainan klinis pada lues I berupa ulkus durum. Adanya bakteri Treponema pallidum pada Sipilis primer ini dapat diperlihatkan pada bahan pemeriksaan dari penderita yang belum diberi pengobatan. Bakteri dapat ditemuakan pada lesi local dalam waktu 6-24 jam. Semasa waktu inkubasi dan satu hari setelah timbulnya lesi primer, antibody masih belum terbentuk dan adanya antibody baru dapat dideteksi 30 hari setelah timbulnya lesi primer. Lesi primer pada lues I ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 10-40 hari tanpa diberi pengobatan.
(Tim Mikrobiologi, 2003).

b. Sipilis sekunder (Lues II)

Sipilis sekunder timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah lesi primer sembuh, rata-rata sekitar 3 bulan. Kelainan yang timbul pada kulit dan mukosa berupa lesi-lesi yang sangat infeksius, dengan ciri-ciri :

  • Rash makulo popular di seluruh tubuh, terutama pada tempat-tempat yang basah seperti : aksila mulut, genitalia, dan anus. Pada tempat-tempat yang lembab tersebut juga timbul kelainan yang disebut condylomata lata;
  • Gejala-gejala lain yang timbul dapat berupa febris, sakit kepala, sakit pada tenggorokan, limfadenopathi umum, dan mungkin pula disertai kelainan pada ginjal, arthritis dan athralgia.
    Lesi sekunder akan hilang dalm waktu 3-12 bulan kemudian timbul dan menghilang berulang-ulang selama sekitar 4-5 tahun. Tes serologis pada Sipilis sekunder memberikan hasil positif.
    (Tim Mikrobiologi, 2003).

c. Sipilis tersier (Lues III)

Sekitar 3-10 tahun setelah Sipilis sekunder, pada penderita akan ditemukan adanya lesi granulomatous yang disebut gumma. Kelainan ini sifatnya local daan ditemukan pada kulit, tulang, dan hepar. Terbentuknya gumma ini kemungkinan sebagai akibat dari reaksi hipersensitif tipe lambat terhadap bakteri Treponema, walaupun mekanismenya yang jelas belum diketahui.

Lues III disebut juga late latent syphilis. Lues III memberikan hasil positif sekita 60-70% terhadap tes-tes serologis terhaadap Sipilis. Hasil tes serologis terhadap cairan spinal dapet positif, meskipun untuk serum memberikan hasil yang negative.

Manifestasi klinis dari Sipilis tersier antara lain, berupa :

  1. Sipilis kardiovaskuler,
  2. NeuroSipilis,
  3. Sipilis kongenital.

Sipilis kardiovaskuler

Umumnya, 10-40 tahun setelah Sipilis primer pada penderita yang tidak diberi pengobatan akan timbul Sipilis kardiovaskuler. Dalam hal ini, biasanya yang terserang adalah pembuluh-pembuluh darah besar pada jantung, misalnya aorta. Akibat keradangan yang terjadi, menyebabkan aneurisma pada aorta atau kelainan klep dari aorta, sehingga akan terjadi insufficiency jantung.

NeuroSipilis

Setelah terjadinya lesi primer, sekitar sepertiga dari penderita Sipilis akan mengalami keradangan pada susunan saraf pusat. Namun demikian, hanya separuh dari penderita yang mengalami keradangan pada susunan saraf pusat tersebut yang mengalami neuroSipilis, yaitu terutama pada penderita-penderita yang tidak diobati.
Waktu timbulnya neuroSipilis ini, berkisar 5 tahun setelah terjadinya Sipilis primer. Manifestasi klinisnya antara lain berupa :

  • Tabes dorsalis,
  • Dementia paralytica,
  • Amyotropic lateralis,
  • Seizures,
  • Optic atrophy, dan
  • Gumma pada medulla spinalis.

Sipilis kongenital

Bentuk klinis yang lain dari penyakit Sipilis adalah Sipilis kongenital. Sipilis kongenital ini timbul karena bakteri Treponema pallidum dapat menmbus plasenta dan akan menyebabkan bacteremia pada fetus (Tim Mikrobiologi, 2003).

Seorang wanita hamil dengan Sipilis dapat menularkan Treponema pallidum ke fetusnya melalui plasenta dimulai pada minggu ke-10 sampai minggu ke-15 usia kehamilan. Beberapa fetus yang terinfeksi meninggal dunia dan menimbulkan keguguran, yang lainnya masih dapat lahir aterm (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2007). TIPE PENULARAN TRANSPLASENTA

Angka kematian dari Sipilis kongenital berkisar sekitar 25% dan kesembuhan yang disertai kelainan kongenital sekitar 40%.

Keguguran kandungan (abortus) oleh karena Sipilis kongenital biasanya terjadi pada trimester ke-16 kehamilan karena, pada saat itu, lapisan Langerhans khorion mengalami atropi. Selain menyebabkan abortus, penyakit ini juga merupakan penyebab tersering dari bayi lahir mati (still birth). Bila infeksinya terjadi pada trimester terakhir kehamilan, bayi yang lahir akan disertai kelainan- kelainan. Kelainan-kelainan tersebut dapat langsung terlihat, berupa lesi pada kulit atau selaput lender atau berupa gejala kuning (jaundice), hepato-splenomegali, dan anemia hemolitik. Namun demikian, ada kelainan yang baru terlihat setelah anak agaak besar, berupa :

  • Trias dari Huthchinson, yaitu : kelainana gigi, keratitis interstitialis, dan gangguan pada N.VIII (nerve deafness),
  • Saddle nose,
  • Kelainan pada tulang tibia (sabre shin), dan
  • Mulberry molar (Tim Mikrobiologi, 2003).

Pada infeksi kongenital, anak akan membuat antibody IgM antitreponema (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 2007).

Diagnosis Sipilis

Untuk mengetahui penyakit sipilis dapat di lakukan dengan tes laboratorium, nah dari hasil itu dapat di ketahui apakah di diagnosis terkena sipilis atau tidak. Diagnosa penyakit sifilis secara pasti dipersulit karena Treponema pallidum belum dapat dibiakan secara in vitro. Manifestasi klinik, demonstrasi bakteri Treponema pada bahan lesi, dan reaksi serologi digunakan untuk mendiagnosis. Pada sebagian besar kasus, manifestasi klinik sudah cukup khas. Bila manifestasi tersebut mencakup lesi eksufdatif, harus dapat ditemukan bakteri Treponema di dalam bahan lesi. Mikroskopis lapangan gelap digunakan untuk memvisualisasikan organisme motil dan nonmotil. ( Sylvia Y. Muliawan, 2008 ).

Selain itu juga dapat melihat ciri cirinya dari luar, jika mirip dengan mencocokan seperti gambar di bawah ini:

gambar sipilis pria gambar penyakit sipilis wanita gambar penyakit sipilis - ciricirisipilis

Pengobatan Penyakit Sipilis

Cara pengobatan sipilis tidak di bedakan berdasaarkan ciri-ciri maupun usia penyakit nya jika anda meminum produk Gangjie dan Ghosiah. Anda ikuti saja pantangan dan anjurannya kemudian konsumsi obat sini secara rutin.

Gangjie bahan utamanya yaitu Sambiloto yang merupakan tumbuhan berkhasiat obat berupa terna tegak yang tingginya bisa mencapai 90 sentimeter. Asalnya diduga dari Asia tropika. Penyebarannya dari India meluas ke selatan sampai di Siam, ke timur sampai semenanjung Malaya, kemudian ditemukan Jawa. Tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Sambiloto dapat tumbuh baik pada curah hujan 2000-3000 mm/tahun dan suhu udara 25-32 derajat Celcius. Kelembaban yang dibutuhkan termasuk sedang, yaitu 70-90% dengan penyinaran agak lama. Nama daerah untuk sambiloto antara lain: sambilata (Melayu); ampadu tanah (Sumatera Barat); sambiloto, ki pait, bidara, andiloto (Jawa Tengah); ki oray (Sunda); pepaitan (Madura), sedangkan nama asingnya Chuan xin lien (Cina).

ada juga kumis kucing yang terdapat dalam Gangjie. dalam bahasa ilmiah di sebut Orthosiphon aristatus atau dikenal di indonesia dengan nama kumis kucing termasuk tanaman dari famili Lamiaceae/Labiatae. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai manfaat dan kegunaan yang cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit.

Kumis kucing merupakan tanaman obat berupa tumbuhan berbatang basah yang tegak. Tanaman ini dikenal dengan berbagai istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera), remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura). Tanaman Kumis kucing berasal dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke wilayah Asia dan Australia.

Sedangkan Ghosiah; bahan utamanya terbuat dari Lumbricus rubellus atau di indonesia di kenal dengan cacing tanah, mungkin terlihak menjijikan, tapi khasiatnya untuk mengobati berbagai penyakit itu cukup ampuh. Cacing tanah adalah nama yang umum digunakan untuk kelompok Oligochaeta, yang kelas dan subkelasnya tergantung dari penemunya dalam filum Annelida.

Cacing tanah merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka sejak fase awal evolusi, oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi mikroorganisme patogen di lingkungan mereka. Penelitian yang telah berlangsung selama sekitar 50 tahun menunjukkan bahwa cacing tanah memiliki kekebalan humoral dan selular mekanisme. Selain itu telah ditemukan bahwa cairan selom cacing tanah mengandung lebih dari 40 protein dan pameran beberapa aktivitas biologis sebagai berikut: cytolytic, proteolitik, antimikroba, hemolitik, hemagglutinating, tumorolytic, dan kegiatan mitogenic.

Demikian sekilas info pembahasan tentang penyakit sipilis. semoga informasi ini bermanfaat untuk anda.