Ciri ciri, gejala penyakit Sipilis raja singa

ciricirisipilis.com – Penyakit Raja Singa atau sipilis secara umum memiliki ciri ciri dan gejala yang sama pada pria maupun wanita. hanya 1 yang membedakan pada pria yaitu pada tahap pertama akan muncul chancre pada bagian penis.  dan kemudian akan muncul luka- luka seperti sariawan pada bagian penis, mulut, tenggorokan dan dubur.

ciri gejala penyakit raja singa - ciricirisipilis

Diagnosa ciri gejala penyakit Raja Singa secara pasti dipersulit karena Treponema pallidum belum dapat dibiakan secara in vitro. Manifestasi klinik, demonstrasi bakteri Treponema pada bahan lesi, dan reaksi serologi digunakan untuk mendiagnosis. Pada sebagian besar kasus, manifestasi klinik sudah cukup khas. Bila manifestasi tersebut mencakup lesi eksufdatif, harus dapat ditemukan bakteri Treponema di dalam bahan lesi. Mikroskopis lapangan gelap digunakan untuk memvisualisasikan organisme motil dan nonmotil.
( Sylvia Y. Muliawan, 2008 ).

TES SEROLOGI UNTUK Raja Singa (Serologic Test for Syphilis / STS)

Uji serologic dalam diagnosis, terutama pada kasus dengan mnaifestasi klinik yang membingungkan atau bila tidak terdapat bahan eksudat. Sela bertahun-tahun telah dikembangkan berbagai uji selorogik, yang terbagi dalam dua kelompok umu, yaitu :

  • Uji nontreponemal : Mengukur kadar antibodi Wassermann, yang timbul sebagai respon terhadap kardiolipin, kemungkinan berasal dari jaringan hospes.
  • Uji treponemal : Mengukur kadar antibody yang timbul sebagai respon terhadap komponen antigenic Treponema pallidum. Uji antobodi spesifik kemungkinannya tinggi apabila ada infeksi treponemal pada saat ini maupun pada waktu lampau.
    ( Sylvia Y. Muliawan, 2008 ).
    Uji nontreponemal

Tes nontreponemal merupakan tes pertama yang dikerjakan untuk menegakkan diagnosis secara serologis atau disebut original test. Tes ini mula-mula dikerjakan oleh Wassermann. Tujuan tes nontreponemal untuk mencari adanya antibody reagenik yang ada pada penderita ( Tim Mikrobiologi, 2003).

a. Uji fiksasi komplemen (complement fixation, CF)

Uji ini antara lain meliputi uji Wassermann-Kolmer, yang merupakan uji fiksasi komplemen berdasarkan fakta bahwa serum yang mengandung reagen mampu memfiksasi komplemen bila terdapat antigen kardiolipin. Harus dipastikan bahwa serum tersebut tidak bersifat antikomplemen (artinya, tidak merusak komplemen tanpa adanya antigen) ( Sylvia Y. Muliawan, 2008 ).

b. Uji flokulasi

Uji ini berdasarkan fakta bahwa pertikel antigen lipid (kardiolipin yang berasal dari jantung sapi) akan tetap terdispersi dalam serum normal, tetapi akan membentuk gumpalan yang tampak bila berikatan dengan reagin. Hasil uji akan tampak dalam beberapa menit saja, terutama bila suspensinya dikocok. Uji tersebut cocok untuk diotomatisasikan dan digunakan pada survey, karena biayanya ringan. Uji VDRL atau RPR yang positif akan kembali negative dalam 6-18 bulan setelah pengobatan Raja Singa yang efektif ( Sylvia Y. Muliawan, 2008 ).

Tes flokulasi yang lain selain VDRL dan RPR, adalah tes dari Hinton, Kleine, Mazini, dan tes dari Kahn.

Kerugian dari tes nontreponemal adalah dijumpai adanya reaksi positif palsu, misalnya karena adanya penyakit-panyakit : malaria, lepra, demam bolak-balik, demam tifoid, campak, cacar, dan lain-lain (Tim Mikrobiologi, 2003)

Uji treponemal

a. Treponema pallidum Immobilization test / TPI
Dasar dari tes ini bahwa terdapat antibody pada penderita yang mempunyai kemampuan untuk menghentikan pergerakan dari bakteri treponema yang masih hidup. Sebagai antigen, digunakan bakteri Treponema pallidum yang masih hidup (diambil dari lesi penderita atau bakteri yang dibiakkan pada testis kelinci) (Tim Mikrobiologi, 2003).

Uji ini memperlihatkan imobilisasi Treponema pallidum oleh antibody spesifik pada serum penderita setelah minggu ke-2 infeksi. Pengenceran serum dilakukan dengan cara dicampur dengan komplemen dan Treponema pallidum yang bergerak aktif, yang diekstraksi dari chancre testis seekor kelinci, kemudian campuran tersebut diamati di bawah mikroskop. Bila terdapat antibody spesifik, Spirochaeta tidak bergerak aktif lagi (pada serum normal bakteri ini tetap bergerak aktif). Uji ini membutuhkan bakteri Treponema hidup yang berasal dari hewan yang terinfeksi dan hal ini sulit untuk dilaksanakan, masa kini jarang dilakukan (Sylvia Y. Muliawan, 2008).

Tes ini sangat mahal dan sukar, juga memberikan hasil yang positif terhadap penyakit-penyakit yang non-veneral seperti: yaws, bejel, dan pinta (Tim Mikrobiologi, 2003).

b. Reiter Complement Fixation Test
Selain tes serologi diatas, dikenal pula tes serologis lain yang disebut Reiter Protein Complement Fixation. Pada tes serologi ini, dipakai antigen yang berasal dari ekstrak dari treponema yang avirulen yang disebut galur Reiter, yang dapat dibiakkan secara in vitro.
Kelemahan dari tes ini antara lain :

Pada stadium lanjut dari penyakit Raja Singa, justru sering memberikan hasil yang negatif; Terjadi reaksi silang dengan bakteri treponema yang merupakan flora normal pada mulut (T.microdentium dan T.macrodentium). (Tim Mikrobiologi, 2003)

c. Fluorescent Antibody Technique (FAT)
Diagnosis terhadap infeksi oleh Treponema pallidum juga dapat dilakukan dengan teknik imunofluoresens. Untuk cara ini, dipakai antigen dari bakteri treponema galur Nichol. Cara imunofluoresens ini digunakan untuk diagnosis Raja Singa kongenital, dan untuk menegakkan diagnosis terhadap late syphilis. Dalam hal ini, antibody yang diperiksa dilabel dengan anti-human gamma globulin dan zat fluoresenin-isothiosianat kemudian dilihat di bawah mikroskop fluoresens. Tes ini sangat sensitive dan hasilnya dapat dipercaya. Sensitivitas dari tes ini adalah 85% pada Raja Singa stadium I, 100% stadium II, dan 98% pada stadium III (Tim Mikrobiologi, 2003).

Uji ini menggunakan imunofluoresensi indirect ( Treponema pallidum yang dimatikan + serum penderita + anti-gammaglobilin manusia yang berlabel ), dan menunjukkan spesifisitas dan sensitifitas yang sangat baik untuk antibody sifilitik, bila serum penderita telah diabsorbsi oleh Spirochaeta galur Reiter yang disonifikasi sebelum dilakukan uji FTA (Sylvia Y. Muliawan, 2008).

FAT adalah tes yang mahal dan membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak direkomendasikan untuk tes uji saring (screening). Tes ini digunakan untuk konfirmasi tes nontreponemal yang positif dan untuk diagnose Raja Singa stadium lambat dimana tes nontreponemal sering memberikan hasil negatif palsu (Tim Mikrobiologi, 2003).

d. Treponema pallidum hemaglutination (TPHA) test
Treponema diabsorbsikan pada permukaan sel darah merah. Jika dicampur dengan serum yang mengandung antibody antitreponemal, sel-sel tersebut akan menggumpal. Tes ini mirip dengan FTA dalam hal sensitivitas, tetapi memberikan hasil positif lebih lambat dari perjalanan infeksinya (Tim Mikrobiologi, 2003).

Reaksi positif palsu (Biological false positif / BFP )

Hasil reaksi positif palsu akut atau sementara pada uji reaginik nontreponemal mungkin terjadi bila terdapat rangsangan imunologik yang kuat (contohnya pada infeksi akut yang dissebabkan oleh bakteri, pneumonia, hepatitis, penyakit-penyakit virus yang memberikan rash kulit, atau pada vaksinasi). Hasil pemeriksaan yang tetap positif selama berbulan-bulan terjadi pada orang yang mengalami ketergantungan obat (narkotika) pada penyakit autoimun atau penyakit jaringan ikat (kolagen), khususnya lupus eritematosus sistemik, juga pada usia lanjut (sampai 10% orang berusia di atas 70 tahun) atau pada keadaan hipergamaglobulinemia. Sedangkan pemeriksaan yang memberikan hasil positif palsu pada uji reginik nontreponemal cenderung berkaitan dengan factor serum lainnya yang seringkali berhubungan dengan penyakit autoimun, misalnya antibody antinuclear, antitiroid, atau antimitokondria, factor rheumatoid, dan krioglobulin (cryoglobulin).

Pemeriksaan yang memberikan hasil positif palsu pada uji reginik nontreponemal biasanya dapat diverifikasi dan adanya Raja Singa dapat disingkirkan dengan cara mendapatkan hasil negative pada uji antibodi treponemal spesifik (misalnya dengan FTA-abs, TPHA). Sayangnya, kadang-kadang penyakit yang sama dapat memperlihatkan reaksi silang yang artinya memberikan hasil positif palsu pada ujii reaginik nontreponemal, dapat pula memberikan hasil positif palsu pada uji reaginik nontreponemal, dapat pula memberikan hasil uji FTA-abs yang positif atau positif meragukan (borderline positive). Demikian pula FTA-abs dapat memberikan hasil positif ketika hasil pemeriksaan VDRL menunjukkan negative.
Penyakit Spirochaeta lainnya seperti demam relaps (disebabkan oleh Borrelia sp) atau framboesia, pinta, leptospirosis, rat-bite fever (Spirillum minor) juga akan menghasilkan uji nontreponemal atau uji treponemal yang positif. Borrelia burgdorferi (penyakit Lyme) memberikan reaksi reaginik nontreponemal (VDRL) yang positif (Sylvia Y. Muliawan, 2008).