Apa penyebab rasa panas dan nyeri ketika kencing ?

Apa sih yang menyebabnyak timbulnya rasa panas pada kelamin dan juga nyeri ketika kencing ?

ciricirisipilis.com – Rasa panas pada kelamin dan juga nyeri ketika buang air kecil atau kencing itu merupakan salah satu dari tanda -tanda terkena penyakit sipilis. apa lagi jika yang di rasakan ini beberapa hari setelah melakukan hubungan seksual. besar kemungkinan terinfeksi penyakit sipilis.

penyebab rasa panas dan nyeri ketika kencing - ciri ciri sipilis

Penyakit sipilis adalah salah satu jenis penyakit kelamin yang dapat di tularkan melalui hubungan seksual. penyakit ini sangat mudah sekali menular, jika 1 orang Pria atau Wanita mengidap penyakit ini kemudian dia melakukan hubungan seksual dan tanpa menggunakan pengaman atau kondom. secara langsung penyakit ini di tularkan ke pasangannya. hanya dalam waktu beberapa hari akan terlihat gejalanya.

penyakit ini akan berkembang cepat karena di sebabkan oleh bakteri treponema pallidum. Treponema pallidum merupakan bakteri batang berkuran panjang, ramping, berbentuk lengkung heliks, spiral atau bentuk alat pembuka tutup botol (corkscrew), bersifat gram negative. Treponema pallidum mempunyai selubung luar atau lapisan glikosaminoglikan. Di dalam selubung luar terdapat membrane luar, yang mengandung peptidoglikan dan yang mempertahankan integritas struktur organisme.

Treponema pallidum merupakan bakteri berbentuk spiral yang merupakan penyebab penyakit sifilis. Penyakit ini primer menyerang manusia dan penularannya terjadi melalui kontak seksual serta menyebar dari satu manusia ke manusia lain. Di Eropa, lebih dikenal dengan nama Italian disease, French disease atau the greatpox yang harus dibedakan dengan smallpox. Menurut John Hunter (1767) dan Ricord (1838), penyakit sifilis merupakan penyakit yang infeksius.

sipilis dapat menyerang seluruh organ tubuh. Perjalanan penyakit dapat mengalami masa laten tanpa manifestasi klinis, dan menjadi sumber penularan di masyarakat khususnya wanita penjaja seks (WPS). Penyakit ini dapat ditularkan kepada bayi di dalam kandungan, dan menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, kecacatan, serta lahir mati. sipilis yang tidak diterapi dapat menjadi sipilis lanjut, yaitu sipilis tersier benigna (gumma), sipilis kardiovaskuler, dan neurosipilis. Selain itu sipilis juga dapat menyebabkan terjadinya ulkus yang meningkatkan risiko penularan human immunodeficiency virus (HIV) sebesar 2-9 kali. Eliminasi sipilis menjadi sangat penting, tidak hanya untuk pencegahan sipilis lanjut, tetapi juga mencegah penularan dan progresivitas HIV.

World health organization (WHO) memperkirakan di seluruh dunia ditemukan sekitar 12 juta kasus baru sipilis setiap tahunnya, antara lain di Asia Selatan dan Tenggara sebanyak 4 juta kasus, Afrika sub-Sahara sebanyak 4 juta kasus, serta Amerika Latin dan Karibia sebanyak 3 juta kasus.2 Penelitian Departemen Kesehatan (DepKes) terhadap WPS di 7 kota besar di Indonesia pada tahun 2003 dan 2005 mendapatkan rerata prevalensi sipilis masing-masing sebesar 11%5 dan 8,7%6. Mengingat banyaknya kasus sipilis laten tanpa gejala (98,6%) dan tanpa tanda (99%), maka sebagian besar WPS tidak akan mencari pengobatan, dengan demikian rantai penularan akan terus berlanjut dan penyakit semakin berkembang dalam tubuh.

Angka infektifitas terkait dengan golongan umur seksual aktif, yaitu tertinggi pada golongan usia 20-24 tahun, kemudian sedikit berkurang pada golongan usia 19 tahun, dan lebih rendah pada golongan usia 25-29 tahun.

Pada akhir tahun 1940-an ternyata penisilin aktif dalam membasmi sipilis pada setiap stadium kliniknya, baik pada infeksi laten maupun pada infeksi kongenital.

Puncak insidensi sipilis terlihat pada tahun 1946-1947. Jumlah kasus secara progresif berkurang hingga tahun 1958, kemudian kecenderungan tersebut berbalik dan terjadi peningkatan yang menetap. Insidensi manifestasi lanjut telah sangat menurun, kemungkinan akibat penggunaan penisilin dan antibiotika sejenisnya untuk mengobati berbagai penyakit nonsifilitik lainnya.
Selain Treponema pallidum bakteri lain yang menyebabkan infeksi penyakit menular seksual adalah Neisseria gonorrhoeae. Nama lain dari Neisseria gonorrhoeae adalah Micrococcus gonorrhoeae atau Diplococcus gonorrhoeae atau gonokokus. Bakteri ini menyebabkan penyakit gonorrhoe atau kencing nanah. Penyakit ini merupakan penyakit kelamin yang sering terjadi dan manusia merupakan satu-satunya hospes alamiah.

Istilah gonorrhoe mula-mula diperkenalkan oleh Galen pada 130 tahun Sebelum Masehi. Penyakit ini sudah dikenal orang sejak zaman Tiongkok Purba dan Mesir Purba.
Pada tahun 1874, Neisser menemukan penyabab penyakit ini dari secret purulent dari urethra seorang yang menderita urethritis akut, vaginitis dan pada secret mata penderita konjungtivitis akut. Pada tahun 1885, Bumm berhasil membiakkan kultur murni kuman ini dan berhasil menularkan penyakit ini dengan jalan menginokulasikannya pada sukarelawan.

Penyebaran & Penularan Gonorrhea telah menyebar ke seluruh dunia. Di Amerika Serikat, tingkat kejadiannya meningkat secara cepat dari tahun 1955 hingga akhir 1970 dengan 400 hingga 500 kasus per 100 ribu populasi. Berikutnya berhubungan dengan epidemi AIDS dan perkembangan penerapan seks yang aman, insiden telah menurun mendekati 100 kasus tiap 100 ribu populasi. Di Indonesia, infeksi gonorrhoe menempati urutan yang tertinggi dari semua jenis PMS. Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung terhadap WPS menunjukkan bahwa prevalensi gonorrhoe berkisar antara 7,4%-50%.

Gonorrhea yang secara khusus ditularkan melalui hubungan seksual, kebanyakan merupakan infeksi yang tanpa gejala. Tingkat infeksi dari organisme, yang dilihat dari kemungkinan seseorang untuk mendapat infeksi dari pasangan seksualnya yang telah terinfeksi, mencapai 20 – 30% pada pria dan lebih besar lagi pada wanita. Tingkat infeksi dapat dikurangi dengan menghindari berganti-ganti pasangan, pemberanrasan gonorrhoe dari individu yang terinfeksi (yang dapat dilakukan dengan diagnosa dini dan pengobatan), serta temuan kasus-kasus dan kontak-kontak melalui penyuluhan dan penyaringan populasi yang beresiko tinggi. Mekanisme profilaksis (kondom) dapat menjadi perlindungan yang parsial.

nah itulah penjelasan dari penyebab rasa panas dan nyeri ketika kencing. jangan lupa baca juga artikel menarik lainnya :